kemarin, aku marah
banyak hal yang tidak ingin kukatakan terucap dari bibirku
tebak aku dengan kesadaran penuh mengatakan itu
aku ungkapkan semua yang ada dihatiku malam itu
tentang sikap ibuku yang terlalu berlebihan menanggapi kejandaannya semenjak ayahku pass away
tentang sikapnya yang tidak menghargai perjuangan kami selama 3 tahun terakhir yang tidak menunjukkan sedikitpun kesepian dan kesedihan kehilangan ayah
tentang sikapnya yang berlebihan menghadapi kami sebagai simalungun
tentang apa saja yang membuatku jengkel malam itu
aku tidak suka dengan sikap mengeluhnya itu
membuat kami seakan-akan tidak punya daya apapun seperti yang diharapkannya
aku muak dengan sikapnya yang mengelu-elukan semua ketobaannya itu
aku muak dengan sikap harus menangnya itu
aku muak jadi orang yang tidak bisa jadi diriku sendiri
bahkan aku muak mengingat ini atau berpikir tentang ini saat ini
ada iblis dan malaikat di sisiku
aku hanya tahu kalau tidak saat ini aku marah maka ibuku tidak akan mengerti maksudku
tidak mengerti isi hatiku
tidak mengerti sudah seperti apa sebenarnya putri sulungnya ini
maaf jika otak kiriku lebih aktif ketimbang otak kananku
dan ibu lebih sering memakai otak kananmu ketika menghadapi kami
bibirmu ketika bercanda sama tajamnya dengan berbicara biasa
terkadang itu membuat hati sedih, maksudku selalu tepat menusuk di hati
atau karena perasaan simalungunku ini terlalu halus dan sensitif
maaf jika harus kukatakan
seluruh jiwa ragaku sangat ingin mematahkanmu
bukan kau tapi sifatmu yang menyebalkan itu
ingat ada 2 malaikat di sisiku
satu jahat, satunya lagi terlalu kudus hingga aku tidak berani berbuat yang tidak baik atau berpikir yang tidak baik
mungkin keahlian bicaramu mati ketika berhadapan denganku tapi bukan itu yang kumau
tidak seharusnya kau selalu mengirimkan sms kepadaku ibu
bukan contoh yang baik
rasanya aku ingin membanting hp ibu
satu lagi
walaupun kemarin malam uda membawakan roti bakar
aku belum bisa menerima itu, aku belum bisa memaafkan sikapnya yang tidak terkendali itu
seperti malam itu, dengan dalih hujan bukanlah alasan yang pas
jarak 10 meter dari rumah bukanlah jauh jika ditempuh dengan berlari
laki-laki seharusnya takkan sakit kalau tantangannya hanya itu
aku butuh waktu beberapa saat untuk menyadari perubahan sikapmu ibu
dan ketika aku sadar diam adalah cara terbaik untuk menjadi bijaksana dan aku tidak pungkiri bahwa sikap sinis setelah kejadian itu mengalahkan benteng rasa pengertianku
aku tidak suka ketika sifatku justru dimanfaatkan.
atau alasan lainnya yang klise dan tidak pantas diucapkan kepada anak yang baru kelas 1 SMP
mereka terkadang jauh lebih berpengertian daripada uda itu
aku sama seperti anak-anaknya, mungkin juga tidak
bahkan mereka lebih bisa membahagiakan ibu daripada kami
tapi coba pandang aku sebagai manusia yang juga punya perasaan dan rasa ingin dipercaya bukan dibanding-banding
itu terlalu sakit
terlalu membekas di hati dan bersarang sampai melumpuhkan kepercayaan diriku
dan 2 iblis masih ada di sisiku satu jahat yang satu melarangku berbuat yang tidak baik
seharusnya ibu tahu sudah seperti apa putrimu sekarang.......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar